Ternyata, tetap salah. Penantian itu ibarat mengharap rimbun jati di musim gugurnya.
Entahlah, sepertinya harus menerima menjadi yang keterlaluan. Menyumbat harap, menghempas keinginan.
Malam yang semakin gelisah, titiskan embun di pelupuk. Yah, dialah yang setia menemani.
Barangkali memang layak untuk diabaikan
Meluka...
Entahlah, sepertinya harus menerima menjadi yang keterlaluan. Menyumbat harap, menghempas keinginan.
Malam yang semakin gelisah, titiskan embun di pelupuk. Yah, dialah yang setia menemani.
Barangkali memang layak untuk diabaikan
Meluka...
posted from Bloggeroid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar